The Day When I Watch Coldplay Live

TGIF! I was being the very first person who woke up that morning (7/4/2017)Tapi bohong. Kebangun jam enam pagi karena alarmnya mba Tata yang tidur sekamar sama aku, dia tidur lagi dan aku terpaksa melek. Thank you. Ngga mau menyia-nyiakan waktu aku langsung ambil kamera dan naik ke rooftop sendirian di saat yang lain masih tidur pulas. Ngga nyesel, dan ngga bosen untuk bilang ‘bagus banget’ (read my previous blog to know where it is). Kemarin pas pertama naik ke rooftop kan keadaannya neraka bocor tuh alias panas anchhuurr jadi kurang menikmati. Pas pagi-nya kesitu udaranya masih sejuk, suasananya lebih tenang gitu deh. Nyaman. Walaupun belum mandi dan ngga ada yang fotoin aku akhirnya foto-foto sendiri dengan menggunakan self-timer. Hehe. An hour later I went back to our bedroom and manage to have another sleep.

Processed with VSCO with se3 preset
Thank you self-timer

Dua jam kemudian udah bangun lagi. Hal terberat adalah nyuruh anak-anak mandi dan siap-siap karena malamnya kita mau nonton Coldplay. Dari pengalaman yang ada harusnya udah jalan (bahkan harusnya udah antri) dari siang tapi kita malah nyantai, tiduran, jalan ke luar cari makan, dan baru siap sekitar jam dua siang. Aku dan Amel paling nyantai karena kita tiketnya misah di tribun jadi ngga perlu rebutan antri untuk masuk, nah yang lain? Hmm.

Kok pisah nontonnya ada yang di tribun dan festival? Jadi, awalnya aku mikir kalo festival tuh ribet mulai dari harus duluan antri supaya dapet posisi nonton yang bagus, trus berdiri berjam-jam yang belum tentu keliatan tuh orang di panggung (maklum, kaki kurang panjang). Melihat dari harga juga cuman beda dikit, kok. So, why not.

 

IMG_7686

Maka, berpisahlah kita (cielah bahasanya kaku banget). Temen-temen yang dapet tiket festival berangkat duluan ke venue-nya di Rajamangala National Stadium, aku dan Amel belakangan. Kebetulan banyak temen dari Medan yang nonton di tribun juga, jadi kita janjian untuk berangkat bareng. Berhubung hari itu BTS dan MRT ngga jalan (katanya) karena ada konser Coldplay, awalnya mikir mau naik ojek biar ngga kena macet tapi karena kita rame banget jadi mesen Grab, deh.

Processed with VSCO with c4 preset
While waiting for the Grab(s) to come at Emquartier

Susahnya minta ampun! High demand? Udah pasti. Dua kloter udah berangkat, aku dan tiga teman lain kebagian kloter terakhir. Nyampenya lama, susah dihubungi, sempat dibatalin sama driver-nya tapi ternyata katanya kepencet. Pas udah dijemput, kita hampir diturunin di pinggir jalan karena katanya salah pick up? You gotta be kidding me, Ma’am. Iya, driver-nya ibu-ibu udah tua menuju nenek-nenek jadi ngga tega. Tapi agak kesel, kayaknya kena double order gitu dari Grab. Membingungkan. Akhirnya kita ngga jadi diturunin di pinggir jalan dengan deal bayar 250 Baht. Wah, yang lain aja pada bayar 400-500 Baht sampe ke venue hari itu, ngga nolak deh kita langsung yes-in aja. Haha.

Memang yang murah ngga selamanya nikmat. Judulnya di jalan dari terang sampe gelap karena driver­-nya menganut asas kepercayaan diri yang tinggi. No waze nor google maps. Udah mencoba kasih tau berkali-kali kalau lewat jalan tol ngga macet tapi berkali-kali juga ditolak dengan segala macam alasan. Bingung, sampe nyerah. Mau marah ngga bisa, langsung inget ibu di rumah. Hiks. Ya sudah, lah. Untung konsernya belum mulai dan kita juga nantinya masuk tinggal duduk sesuai seat yang udah dibeli.

Processed with VSCO with c4 preset
On our way to Rajamangala National Stadium making sad faces because we were actually sad due to the old lady who happened to be our Grab driver

Di tengah kemacetan menuju venue kita memutuskan untuk turun dan melanjutkan dengan jalan kaki aja. Bahkan sempat-sempatnya jajan McD dulu karena sekalian lewat dan biar ngga kelaperan pas konser. Sampe di luar venue masih sisa waktu satu jam lagi sebelum konsernya mulai, tapi udah dibuat takjub sama euphoria yang ada. Selanjutnya kita masuk ke venue dengan tiket yang berbentuk kartu (which I fancy), dapet xyloband, dan dikasih pin kecil bertuliskan ‘love’. Bahagia liat pemandangan di depan mata, puluhan ribu orang dengan atribut masing-masing. I especially love when the xylobands popped-up the lights! Indescribable.

 

Ngga susah untuk nyari seat kita karena termasuk barisan depan. Di panggung masih ada opening act dari special guest, Jess Kent. Kurang tau banyak tentang dia tapi kayaknya semacam penyanyi baru gitu. Padahal berharap special guest-nya Lianne La Havas kayak pas konser di Australia, Amerika, dan Eropa. Hiks, penonton kecewa. Until the main reason of this trip showed up! COLDPLAY CUY. Langsung flashback ke perjuangan-perjuangan sebelum sampe sini. Definitely worth the money, the sweat, the longwalks, the queues, everything! Goosebumps. The rest is history. I can’t describe it right because there’s no exact words to describe what I see and what I feel back then. Just, beautiful. Ngga heran banyak orang yang bisa sampe berkali-kali nonton konsernya di berbagai belahan negara. If only I had all the time and money in the world.

 

Waktu rasanya berjalan cepet banget karena tau-tau konsernya udah selesai aja. Sad. Mau lagiii. They didn’t just make me (and the others) sing along but dance along too. The euphoria is still here even until the day I write this journal, I swear. There it goes, the day I crossed one of my bucketlist. So happy I could cry (well, I did cry a bit). I guess the next day I’d get some huge Coldplay withdrawal. Sigh.

Processed with VSCO with c4 preset
Closed the day with Grab Bike-ing
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s